Jenis Masakan


Mengapa Manusia Menyukai Makanan Manis? Temukan Kaitannya di Sini!

Simpan ke bagian favorit

Tim MAHI|Desember 26, 2018

Apakah yang terjadi dengan otak sehingga sulit menolak makanan manis?

Gula adalah istilah umum yang mendeskripsikan sebuah kelas molekul yang disebut dengan karbohidrat. Ini lazim terdapat pada begitu banyak jenis makanan dan minuman. Gula biasanya datang dengan sebutan yang berbeda-beda di produk-produk yang kita temukan di supermarket. Misalnya saja ada yang namanya disebut dengan glukosa, sukrosa, fruktosa, maltosa, laktosa, dan banyak lainnya. Semua ini adalah gula, dan begitupun terkandung gula pada makanan atau minuman yang mengandung sirup jagung tinggi fruktosa, madu, gula biasa, ataupun jus.

Makanan manis yang lazim terdiri dari kandungan gula yang cukup tinggi.
Kehadiran gula kini ditemukan di berbagai produk makanan maupun minuman. (Foto: Shutterstock)

Tidak hanya terdapat pada permen ataupun makanan manis untuk penutup, gula juga ditambahkan pada saus tomat, yogurt, buah-buahan kering, air minum berperisa, hingga bahkan makanan sehat kekinian yaitu granola. Inilah yang menyebabkan kita perlu memahami soal kaitan gula dengan otak.

Sistem kerja

Katakanlah kita menikmati semangkuk serealia dan kandungan gulanya akan mengaktivasi reseptor rasa manis dalam lidah kita. Kemudian reseptor ini akan mengirimkan sinyak ke pembuluh otak dan dilanjutkan ke bagian otak depan. Salah satunya adalah ke bagian cerebral cortex yang akan memproses berbagai rasa makanan yang berbeda.

Dari sinilah otak akan mengaktifkan sistem penghargaan pada tubuh kita. Sistem ini merupakan rangkaian dari jalur elektrik serta kimia dari berbagai bagian dalam otak. Rumit, namun intinya akan memunculkan pertanyaan dalam diri kita, “Apakah saya harus melakukannya lagi?”

Itulah sebabnya terasa hangat dan menyenangkan ketika kita menikmati kue kesukaan yang dibuat oleh ibu kita sejak kecil. Sistem penghargaan itu juga mendorong kita untuk melanjutkannya menikmatinya terus dan terus. Perasaan seperti ini juga didapatkan tidak hanya dari makanan, namun juga dari bersosialisasi ataupun berbagai aktivitas lainnya.

Namun bila kita terlalu memaksa sistem penghargaan ini terlalu overaktif, maka ini akan memberikan efek yang negatif. Misalnya saja seperti kesulitan mengontrol diri, kecanduan, dan terlalu toleran pada gula.

Dopamine

Sistem penghargaan tubuh berkaitan dengan sebuah sel kimia yang disebut dengan dopamine. Dopamine banyak ditemukan dalam berbagai bagian otak kita namun tersebar secara tidak merata. Reaksi dopamine akan berlebihan ketika manusia mengonsumsi hal-hal yang terlampau adiktif dan menjadikan masalah kecanduan.

Gula memang mengundang reaksi munculnya dopamine, meskipun tidak separah seperti hal-hal yang dilarang sebagai contohnya. Menariknya, ada juga makanan-makanan yang tidak memancing dopamine seperti contohnya brokoli. Itulah mungkin salah satu sebabnya mengapa ada saja anak-anak yang tidak menyukainya.

Tapi berbicara soal makanan, katakanlah kita sedang merasa lapar dan ingin menyantap makanan dengan gizi seimbang maka dopamine kembali bereaksi. Namun bila kita menikmati hal yang sama berulang-ulang, maka tingkat dopamine akan terus menurun. Itu dikarenakan otak berevolusi untuk memperhatikan berbagai rasa yang baru ataupun berbeda.

Makanan manis dalam bentuk chocolate cake dengan buah.
Menikmati kue kesukaan tentu tidak menjadi masalah bila hanya sesekali dan dalam kadar yang cukup. (Foto: Shutterstock)

Alasannya adalah agar otak bisa mendeteksi apakah makanan tersebut masih layak dimakan atau tidak. Kedua, karena semakin banyak variasi makanan dari berbagai resep maka semakin banyak kita memerlukan nutrisi. Agar variasi tersebut terjaga, maka kita perlu mengenali berbagai macam makanan baru dan terus mencari yang berbeda. Inilah mengapa tingkat dopamine menjadi turun bila apa yang kita konsumsi terlalu terus berulang dan membosankan.

Tapi alih-alih demikian, bagaimana reaksi dopamine bila kita hanya menikmati makanan manis yang dipenuhi gula saja? Meskipun tubuh kita akan menikmatinya, tetap saja akan berakibat tidak baik bila kita terlalu banyak mengonsumsinya. Meskipun begitu, bukan berarti kita tidak menikmati kue sesekali kan?

Artikel tersimpan di bagian favorit.
Artikel dibuang dari bagian favorit.